terasbanua.my.id, Barabai – Oksigen dan air bersih di Hulu Sungai Tengah (HST) dan sekitarnya bersumber dari wilayah Meratus. Meratus merupakan kawasan pegunungan. Berada di tenggara Pulau Kalimantan. Kaya akan keanekaragaman hayati.
Wilayah Meratus membelah Kalimantan Selatan menjadi dua. Terbentang sepanjang ± 600 km² dari arah barat daya-timur laut dan membelok ke arah utara hingga perbatasan Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Timur (Kaltim).
Di kaki Meratus HST diisi oleh warga adat, ‘Banjar Archaic’. Orang-orang sering bilang Dayak Meratus. Adat mereka kental dengan tradisi leluhurnya atau nenek moyangnya, Kaharingan.
Penghasilan utama meraka bersumber dari ‘bahuma’, ladang. Misalnya kebun pisang, padi, jagung, timun maupun tanaman lainnya.
Ratusan tahun, warga ‘atas’ itu menjaga keasrian hutan dengan pemahaman nenek moyangnya. Bahkan sekarang disebut sebagai salah satu ‘paru-paru dunia’ yang tersisa.
Kontribusi warga atas atau adat dinilai bukan main-main dalam menjaga kawasan hutan. Sayangnya mereka kerap dijadikan ‘kambing hitam’ soal bencana alam yang terjadi.
Pegiat dan Aktifis Lingkungan Hidup, Kosim menilai, warga atas atau adat itu perlu kompensasi atas jasa mereka.
“Mereka (warga adat-red) berkontribusi besar untuk warga di hilir ‘banua’ (Wilayah Kota HST dan sungai yang bermuara di Meratus-red),” ujar pria kelahiran Bandung, Jawa Barat itu, Kamis (2/11/2023).
Kosim yang sudah puluhan tahun menetap di kaki Pegunungan Meratus, tepatnya di Hinas Kiri Kecamatan Batang Alai Timur (BAT) itu bahkan membenarkan, tak jarang warga atas menjadi kambing hitam saat terjadi bencana ekologis.
Ambil contoh soal asap dan pembalakan liar. Kata penyuluh kehutan swadaya masyarakat (PKSM) itu, peraturan larangan membakar lahan menjadi isu pertama yang dilayangkan kepada mereka, warga adat.
“Sementara tradisi warga, kultur adat mereka turun-temurun membakar lahan. Cakupannya pun tidak luas (hanya untuk berkebun-red). Kalau tidak demikian, mau makan apa warga,” ujar penerima PKSM terbaik nasional yang dinobatkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) itu.
Sementara warga atas, kata Kosim terus disuruh menjaga hutan. Setidaknya, ‘orang hilir’ atau pun pemerintah memberi kompensasi kepada warga atas.
Sebab mereka berkontribusi membangun keberlangsungan hidup manusia.
“Alokasikan perbaikan wilayah atas. Mulai dari pendidikan sampai ekonominya. Sarana dan prasarana warga di Meratus,” ucap Kosim.
Sejatinya Kosim pernah melayangkan surat ke Kementerian LHK pasca-banjir awal 2021 lalu. Dia meminta dibuatkan embung di wilayah atas.

Pembuatan embung dinilai kosim dapat meningkatkan perbaikan hutan sekaligius mendongkrak ekonomi warga atas. Orang hilir pun bisa menikmati hasilnya.
Dia juga meminta kontribusi orang hilir membuat hutan buatan. Sebab, dari ‘kaca mata’ Kosim, hutan di HST semakin hari semakin terbatas dan menipis.
“Ini perlu digalakkan,” tegas Kosim.
Alasan Kosim menyebut itu semua bukan karangannya belaka. Ada teori yang meyakinkan disebutnya.
Ambil contoh, warga Meratus memliki lahan 1 hektare per orang. Ditanami berbagai jenis pohon. Anggap menanam 1 pohon. Per pohon menghasilkan oksigen untuk 8-16 orang.
Jika ditanam 5.000 pohon, maka menghasilkan bisa menciptakan oksigen untuk 50.000 orang.
“Bayangkan jika kontribusi warga hilir menanam pohon di hutan buatan. Satu hektare 5.000 pohon,” kata Kosim.
Tak hanya oksigen, pohon juga menghasilkan air. Perpohon bisa menghasilkan 10-200 liter air.
Pukul rata jika perpohon mengahsilkan 20 liter air. Maka 20 dikali 5.000 pohon, jadi 100.000 liter menyimpan air per pohon.
“Hutan buatan nantinya berpadu dengan embung sebagai penampung air,” kata Kosim.
Bicara soal kerusakan, jika 5.000 pohon tadi ditebang, maka akan kehilangan air 100.000 liter dan oksigen untuk 50.000 orang.
“Tambah lagi kerusakan alam dari segi erosi kalau lahan miring (tanah atas). Otomatis tanah mengendap ke sungai larut ke hilir dan menyebabkan sungai mendangkal,” terang Kosim.
Reporter: HN Lazuardi






