terasbanua.my.id, Barabai – Jajaran Komisi I DPRD Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel) melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H Damanhuri atau RSHD Barabai.
“Ini kesekian kali Komisi I DPRD HST ke rumah sakit dalam rangka pengawasan dan juga menginisiasi dari banyaknya keluhan masyarakat HST terkait panjangnya antrean yang ada di rumah sakit,” kata Ketua Komisi I DPRD HST Yajid Fahmi As di Barabai, Kamis (12/6/2025)
Sekitar tiga jam, jajaran Komisi I DPRD HST berkeliling ke sejumlah ruangan dan melihat langsung antrean. Mereka berdiskusi dengan para pasien, tenaga medis serta pihak manajemen rumah sakit guna menginventarisir segala keluhan yang ada.
Ssetelah kunjungan itu, anggota DPRD ini berharap manajemen rumah sakit segera melakukan evaluasi. Sehingga masyarakat tidak memerlukan waktu yang cukup panjang dalam mendapatkan layanan kesehatan.
“Kami minta manajemen RSUD Barabai segera melakukan screening ulang membuat skema bagaimana layanan terkait dengan antrian ini bisa diurai dengan efektif,” kata Yajid.
Melihat manajemen rumah sakit, kata Yajid juga sudah berupaya melakukan sejumlah pembenahan poliklinik yang perlu dipahami masyarakat. Memberikan ruang dan waktu sebagai upaya mengatasi keluhan panjangnya antrean.
Pelayanan yang dinilai belum maksimal, jajaran Komisi I DPRD HST menyarankan agar dokter spesialis dan perawatnya perlu ditambah.
Hal itu menginngat, DPRD HST telah memberikan anggaran sekitar Rp50 miliar untuk program UHC atau Universal Health Coverage (cakupan kesehatan semesta). Katena itu perlu ditekankan penyamaan persepsi bagi manajemen rumah sakit dan BPJS Kesehatan agar bisa maksimal dirasakan masyarakat.
“Segala hal ini kami tekankan dalam rangka menindaklanjuti keluhan masyarakat dan guna meningkatkan pelayanan RSUS Barabai,” tegas Yajid.
Direktur RSUD H Damanhuri Barabai, Dokter Nanda Sujud Andi Yudha Utama mengakui telah mengambil langkah optimalisasi sistem pendaftaran digital. Solusi jangka pendek untuk mengurai antrean banyaknya pasien rawat jalan.
“Kami harap pasien dapat memaksimalkan penggunaan sistem digital yang telah kami sediakan. Lewat aplikasi digital tersebut pasien dapat melihat nomor antrian dan sudah ada estimasi jam pelayanannya,” papar Nanda.
Sedangkan untuk solusi jangka panjang mengurai antrean, RSHD melakukan pelebaran ataupun perluasan fasilitas poliklinik dan ruang tunggu.
Terkait dinilai kurangnya dokter spesialis, kata Nanda saat ini sudah memiliki dokter spesialis terbanyak se-Banua Enam.
Meski begitu, kata Nanda, pihaknya tetap mengambil langkah untuk menambah dokter spesialis dengan bekerja sama dengan rumah sakit tertangga.
“Kami juga sudah membangun komunikasi dengan center pendidikan, seperti ULM, UGM, UNHAS sebagai wahana pendidikan maupun penyaluran alumni dari pendidikan dokter spesialis,” tutup Nanda.
Reporter HN Lazuardi






