terasbanua.co.id, Barabai – Para petani padi pada dua kecamatan di Hulu Sungai Tengah (HST) terancam gagal tanam.
Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) pun saat ini masih mendata petani yang terancam gagal tanam akibat terendam banjir pada Januari 2024 saat ini.
“Kami masih mendata. Sampai ini masih dinamis datanya. Semoga dalam 1 – 2 hari ke depan sudah fix,” kata Kepala Dinas Pertanian HST, Satria Budi Tanjung, Senin (15/1/2024).
Soal upaya Dinas Pertanian HST, kata Budi, pihaknya juga terus berkoordinasi dengan penyuluh. Sebab, baru bisa didata setelah tanaman terendam selama 4 hingga 5 hari.
Setelah itu, baru bisa dinyatakan statusnya. Apakah gagal atau tidaknya.
“Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yang menyatakan statusnya,” terang Budi.
Sekitar 2 pekan atau sejak awal Januari 2024, sawah milik petani padi di HST seperti di Kecamatan Pandawan dan Labuan Amas Utara (LAU) terendam banjir.
Padahal, mayoritas warga di sana baru saja menaman padi. Misalnya saja di Desa Pahalatan, Mantaas, Rantau Bujur dan Sungai Buluh.
Mereka bahkan baru saja menanam dan memupuk hingga menyemprot padinya. Hingga 15 Januari ini, lahan petani di sana masih terendam banjir.
Kepala Desa Masiraan, Ahmad Fauzi menyebut, di wilayahnya total lahan yang diperkiraan gagal tanam atau terdampak mencapai 70 hektare. Kerugian ditaksir Rp50 juta.
Belum lagi sektor perkebunan seperti cabai dan karet termasuk peternakan yang juga terdampak. Kerugiannya pun bahkan mencapai ratusan juta.
“Sampai saat ini masih belum ada bantuan yang diterima warga. Baik untuk penanganan pertanian, perkebunan maupun peternakan, ” tutup Fauzi.
Reporter: HN Lazuardi






