terasbanua.my.id, Barabai – Gema Meratus yang digarap SMPN 30 Satu Atap (Satap) Hulu Sungai Tengah (HST) nampaknya sukses menarik perhatian.
Pasalnya, agenda Festival Bahasa dan Budaya Banjar bertema Gema Meratus yang semula ditujukan hanya untuk tingkat SMP di 4 kecamatan jadi meluas.
Cakupannya menjadi se HST, bahkan mencakup tingkat menengah ke atas atau SMA sederajat.
Total ada 180 lebih peserta dari 12 SMP sederajat dan 11 SMA sederajat. Sementara lombanya ada 5 kategori.
Semua kategori mengangkat bahasa dan kebudayaan Banjar. Mulai dari stand-up comedy, baca puisi, menyanyi, membuat miniatur balai atau rumah adat dan tari kreasi.
Kepala Sekloah SMPN 30 Satap HST, H Majidi Rahmi menyebut para peserta atau siswa yang berpartisipas bahkan ada dari kecamatan Haruyan, Labuan Amas Utara dan Barabai.
Selama 3 hari atau sejak 23-25 November tadi, penampilan para peserta didik memukau para undangan maupun tamu Gema Meratus.
“Tujuan utama kami sebagai penyelenggara yakni, melestarikan bahas dan budaya Banjar. Sehingga menumbuhkan kecintaan terhadap identitas budaya daerah bagi siswa,” kata Majidi, Sabtu (28/10/2023).
Ketua Pelaksana Gema Meratus, M Noor Hasnan menambahkan dengan adanya festival itu, pesert didik di HST dapat dan ikut terlibat melestarikan bahasa dan Budaya Banjar.
“Budaya dan bahasa kita lestari dan bakat anak-anak ikut terus terasah,” kata guru di SMPN 30 Satap HST itu.
Hasnan berharap Gema Meratus yang dibalut Festival Bahasa dan Budaya Banjar itu menjadi pelopor di HST. Bisa diaplikasikan di dalam pendidikan pada momen-momen lainnya.
“Semoga yang lain bisa berpartisipasi menggarap hal yang sama. Dan hal itu bisa menjadi momen tahunan atau agenda tahunan,” harap Hasnan.
Terlaksananya Gema Meratus berangkat dari ide para guru di sehunjuran Meratus Batang Alai Timur (BAT), khususnya guru di SMPN 30 HST. Mereka khawatir bahasa dan budaya Banjar yang terus terkikis dan berjalan lambat dari lainnya.
Sehingga para guru dan pihak sekolah berinisiatif menggelar festival. Mewadahi kegiatan untuk mengukur dan meningkatkan peserta didik terhadap bahasa dan budayanya sebagai identitas suatu bangsa.
“Cakupan yang lebih luas lagi, membudayakan literasi dan numerasi kepada siswa pentingnya pelestarian budaya dan bahasa Banjar,” tutup Hasnan.
Reporter: HN Lazuardi






