terasbanua.my.id, Barabai – Stunting terus menjadi isu prioritas nasional. Di Hulu Sungai Tengah (HST), kasus stunting atau gangguan pertumbuhan pada anak meningkat pada 2022 di banding 2021. Total kasus ada 1.544.
Berdasarkan data dari BKKBN, kasus stunting di HST pad 2021 sebanyak 29,6 persen. Ssmentara pada 2022 sebanyak 31,1 persen.
Selisih -1,5 persen dari 2021 ke 2022. Data itu sama dengan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Selatan.
Meminjam data Dinkes HST pada 2022, dari 15.604 bayi balita, ada 1.544 yang stunting. Sementara di 2023, kasus stunting usia 0 – 23 bulan kurang lebih 35 persen dan usia 24 – 59 bulan ada 65 persen dari jumlah stunting.
Bupati HST, H Aulia Oktafiandi menyebut stunting disebabkan faktor multi dimensi. Tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi yang dialami oleh ibu hamil maupun anak Baduta (Bawah Dua Tahun).
Karena itu, intervensi paling menentukan, kata Aulia yakni mengurangi prevalensi stunting. Perlu dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Beberapa faktor penyebab stunting adalah praktek pengasuhan yang kurang baik. Termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan masa kehamilan, serta setelah melahirkan,” kata Aulia saat kegiatan Kelas Pengasuhan Untuk Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Desa di Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) Kalibaru Kecamatan Batu Benawa, Kamis (5/10/2023) lalu.
Bupati Aulia menegaskan, agenda percepatan penurunan stunting terus dilakukan di HST. Sehingga materi atau strategi yang diberikan bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebabnya, tumbuh kembang anak juga tanggung jawab pemerintah.
Peduli dengan gizi anak dan ibu hamil, Bupati Aulia menyerahkan bantuan makanan tambahan pada keluarga beresiko stunting. Saat itu masing-masing peserta kelas mendapat 40 paket bantuan makanan tambahan berupa telur, susu dan biskuit.

Bupati juga menyerahkan bantuan makanan tambahan pada desa yang termasuk dalam locus stunting. Seperti Pajukungan Barabai dan Masiraan Pandawan.
“Bantuan yang diserahkan benar-benar dapat diberikan dan dinikmati oleh anak kita,” tutup Bupati Aulia.
Sebelumnya, Dinsos PPKB PPPA menggelar kegiatan Kelas Pengasuhan Untuk Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Desa di Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) Kalibaru Kecamatan Batu Benawa, Kamis (5/10/2023).
Plt Kepala Dinsos, Eddy Rahmawan mengatakan kegiatan itu adalah rangkaian kegiatan melalui kelompok bina keluarga balita. Sasarannya keluarga beresiko stunting.
Tujuan kegiatan, kata Eddy untuk memperbanyak dan memperluas cakupan pemahaman terkait pengasuhan 1.000 HPK dan percepatan penurunan stunting. Sehingga dapat mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Kegiatan diisi pemateri dari Dinkes. Isinya mengenai PHBS dan pemenuhan gizi balita, dari OPD KB mengenai pengasuhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Pelaksanaan kegiatan di tiga desa locus stunting yaitu desa Pajukungan Kec. Barabai, desa Masiraan Kec. Pandawan dan desa Kalibaru Kec. Batu Benawa,” kata Eddy.
Reporter: HN Lazuardi






