terasbanua.my.id, Barabai – Kerajinan eceng gondok terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di Kemenikbud RI sejak 2013 dan 2014.
Seni menganyam tumbuhan liar yang mengapung di air itu, terdaftar sebagai WBTB di Jawa Tengah. Dua pusat pengarjin terbesar di sana, Kebumen dan Demak Kabupaten Semarang.
Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Hulu Sungai Tengah (HST) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), mencoba memanfaatkan tanaman itu.
Baru-baru tadi, Dekranasda HST memberikan pelatihan membuat karya seni ‘diversifikasi’ eceng gondok.
Mereka yang diberi pelatihan adalah masyarakat yang berada di sekitar wilayah sungai atau rawa di HST. Tepatnya di Desa Banua Kupang Kecamatan Labuan Amas Utara (LAU).
Sejatinya, ada pengrajin yang telah merintis usaha dari tumbuhan gulma itu. Mereka tergabung di dalam Dekransda HST.
Ketua Dekranasda HST, Cheri Bayuni Budjang menyebut pemikiran masyarakat harus diubah terhadap tumbuhan gulma itu.
“Eceng gondok bukan tumbuhan pengganggu,” kata Cheri, Sabtu (8/7/2023).
Nyatanya, keberadaan flora satu itu berdampak buruk pada sektor perikanan, pariwisata maupun sungai itu sendiri. Gulma satu itu mempercepat laju sedimentasi dan pengurangan air.
Sekalipun demikian, Cheri memberi pandangan lain. Tumbuhan itu memiliki nilai jual yang tinggi,.
“Dapat dijadikan kerajinan tangan ‘handycraft’ yang unik dan memiliki seni tinggi,” kata istri Bupati HST, H Aulia Oktafiandi itu.
Ya, bahan baku dari eceng gondok ini dapat dibuat kerajinan. Misalnya saja, berbagai barang funsional dan kebutuhan, seperti sepatu, tas, pakanan, industri hingga pelestarian alam.
Karena itu, Cheri menekankan dengan pelatihan deversifikasi yang digelar, peserta mendapat ilmu. Terutama memanfaatkan eceng gondok.
“Juga terciptanya IKM handal dan lapangan kerja baru yang mampu meningkatkan taraf hidup masyarkat,” tegas Cheri.

Pandangan Ketua Dekranasda itu diamini Plt Kepala Dinas Perdagangan, Rapinorrahman. Dia berjanji memberi dukungan kepada para pengrajin eceng gondok di HST.
“Salah satunya mengikut sertakan IKM pada acara bazar maupun pameran. Dengan demikian dapat maju dan berkembang serta dapat bersaing dengan pengrajin dari daerah lain,” kata Rapim.
Selain dapat meningkatkan inovasi dan keterampilan, Rapi menilai kerajinan dari tumbuhan gulma itu bisa menyejahterakan masyarakat.
“Khususnya di bidang kerajinan,” tutup Rapi.
Reporter: HN Lazuardi/ rie






