terasbanua.my.id, Barabai – Upaya Ahmad Magani dan Mauizhatil Hasanah bisa disebut bukan kaleng-kaleng untuk mencapai tujuannya.
Pasangan ini akhirnya terpilih menjadi Duta Baca Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) masa bakti 2023-2026.
Keduanya terpilih setelah melewati 3 tahapan tes yang diikuti 60 kontestan pada Pemilhan Duta Baca HST.
Tes pertama, Magani-Hasanah ikut melengkapai persyaratan administrasi dan ikut tes tertulis. Kemudian keduanya mengikuti wawancara, hingga menyisakan 14 orang.
Masuk ke grand final, tersisa 6 orang termasuk si Magani dan Hasanah. Mereka harus memperesentasikan dan memaparkan program yang sebelumnya dituangkan dalam bentuk proposal.
Proposal itu yang nantinya menjadi acuan dalam program kerja Duta Baca. Membantu pemerintah dalam memberantas lemahnya literasi masyarkat.
“Hasilnya dipilih berdasarkan penilaian dan akumulasi para dewan juri (sesuai bidangnya-red),” kata Kepala Dinas Perpustakaan HST, A Fathoni usai Grand Final Pemilihan Duta Baca di Pendopo Bupati HST, Selasa (29/8/2023).

Kata Fathoni, agenda itu baru pertama kali dilakukan secara serius. Melalui tahapan-tahapan dan seleksi ketat sebagai Calon Duta Baca hingga terpilih.
Hal itu dilakukan mengingat pentingnya literasi bagi bangsa. Khususnya HST.
“Jadi bukan hanya sekedar pembawa baki dan gunting-gunting pita,” kata Fathoni.
Pentingnya literasi, Fathoni mengambil contoh soal relevansi stunting. Kata dia, hal itu bukan serta merta penanganan gizi atau pun asupannya.
Tetapi juga soal apa yang diketahui oleh orang tua maupun keluarganya untuk memberikan nutrisi kepada anak.
“Masa botol susu diisi sirup. Padahal dilihat dari pakaiannya bagus, rapi. Artinya bukan perkara ekonomi. Dari situ sudah terlihat lemahnya literasi. Di sini lah peran Duta Baca dan Bunda Literasi menyampaikan,” ujar Fathoni.
Sebagai orang tua, harus melek literasi. Sehingga hasil literasi bisa memberikan yang terbaik untuk si buah hati, dalam hal gizi dan nutrisinya.
Sesuai harapan Dinas Perpustakaan ke depannya, output dari pemilihan Duta Baca itu dapat menghasilkan figur yang mampu mengampanyekan gerakan membaca di masyarakat.
“Menjadi role model atau keteladanan dalam promosi pembudayaan, kegemaran membaca dan literasi di daerah. Sehingga dapat membantu memperkuat dan mempercepat tercapainya masyarakat Indonesia berbudaya gemar membaca dan berkunjung, serta memanfaatkan perpustakaan sehingga menghasilkan masyarakat merdeka belajar,” terang Fathoni.
Reporter: HN Lazuardi






