terasbanua.my.id, Barabai – PT Adhi Karya bakal menggenjot pembangunan kolam regulasi di Hulu Sungai Tengah (HST).
Proyek nasional ini sudah berjalan selama 1 tahun 6 bulan. Saat ini pengerjaan kolam pengendali banjir sudah berlangsung 65 persen. Dan, sesuai target harus selesai pada April 2024.
“Ada arahan dari pihak balai (Balai Wilayah Sungai atau BWS Kalimantan III-red) dimaksimalkan di tahun ini, 2023,” kata Project Manajer PT Adhi Cipta Karya, Miftah Ardiyansah, Rabu (15/3/2023).
Lantas bagaimana dengan cuaca serta keluhan masyarakat sekitar proyek yang daerahnya tergenang air tiap kali hujan? Apakah akan selesai seuai target?
Pengerjaan kolam regulasi, kata Miftah pihaknnya akan melakukan percepatan.
“Kami maksimalkan walau bertarung dengan cuaca. Kami bekerja siang malam,” terang Miftah
Percepatan pengerjaan proyek itu tidak hanya soal keluahan masyarakat Desa Mandingin yang mengeluhkan banjir yang terjadi selama proyek ini berlangsung.
Ya, tercatat sudah enam kali banjir melanda kawasan Komplek Sungai Lumbah dan dua komplek terdekat lainnya, Griya Mandingin dan Naura Griya Mandiri.
Saat ini, kata Miftah pihaknya sudah mengkonfirmasi keluhan masyarakat yang terjadi genangan. Pihaknya melakukan penambahan saluran dengan dibuatkan beberapa titik box culvert atau gorong-gorong.
“Ada 7 titik. Satu titik disi dua culvert. Da4i ujung jalan raya sampai kolam,” kata Miftah didampingi Pelaksana Teknik BWS Kalimantan III, Dery Kristy.
DIa menyebut, air yang menggenangi itu bukan melulu dari anak sungai daerah Mandingin. Tapi ada anak sungai dari Desa Paya Besar juga mengalir ke proyek.

Project Manager Adhi Karya, Miftah bersama Pelaksana Teknik BWS Kalimantan III, Dery Kristy memantau pembuatan saluran, Rabu (15/3/2023).
“Jadi perlu normalisasi biar aliran anak sungai bisa ke sungai besar di Barabai, kalau itu bisa tertangani, harusnya aliran tersebut tidak sampai ke wilayah ini,” papar Miftah.
Genangan, lanjut Miftah ada dua sisi. Selain dari aliran anak sungai tersebut juga penyebabnya dari intensitas hujan yang cukup lama beberapa hari ini.
“Memang untuk normalisasi sungai kecil ada kewenangan tersendiri. Kita koordinasikan dan perlu audiensi dengan pihak terkait di HST,” kata Miftah.
Untuk diketahui, proyek kolam regulasi pengendali banjir itu menelan biaya pembangunan fisik Rp280 miliar besumber dari anggaran Kementrian PUPR.
Luas pengerjaan mencapai 57,29 hektare. Luasan itu terbagi untuk akses jalan masuk dari Desa Mandingin seluas 1,54 hektare, akses jalan besar dari Aluan Besar 0,63 hektare. Sisanya 55,12 hektare untuk bangunan utama kolam.
Total191 persil lahan pertanian milik warga dua desa dibebaskan Pemkab HST. Rinciannya, 127 persil di Desa Mandingin dan 64 persil di Desa Aluan Besar.
Ganti untung pembebasan lahan itu Rp34,1 miliar. Anggaran itu bersumber dari APBD Kalsel tahun 2022 melalui anggaran Dinas PUPR Kalsel sebesar Rp14,9 miliar dan dari APBD HST 2022 Rp19,2 miliar.
Proyek itu dikerjakan oleh PT Adhi Karya sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN ) dengan sub kontraktor PT Quantum.
Reporter: HN Lazuardi






