terasbanua.my.id, Barabai – Angka stunting sejak 2021-2022 meningkat di Hulu Sungai Tengah (HST).
Dari data BKKBN dan Dinkes Kalsel, total kasus stunting di HST per 2021 sebanyak 29,6 persen. Angkanya meningkat di 2022 sebanyak 31,1 persen dengan selisih -1,5 persen. Total kasus ada 1.544
Tingginya angka stunting atau gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak itu ditanggapi serius lintas sektor di HST.
Mengingat arahan Presiden RI Joko Widodo, kasus stunting di Indonesia harus di bawah 14 persen pada Desember 2024.
Alhasil, rembuk stunting 2023 dilaksanakan di Aula Bapelitbangda HST, Jumat (9/6/2023) lalu.
Sebagai Leading sektor yakni, Dinas Kesehatan dibantu TP-PKK HST, Dinas Sosial dan instansi terkait lainnya.
“Kita tahu bahwa saat ini stunting menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian oleh semua perangkat dan unsur yang ada di masyarakat,” kata Ketua TP-PKK HST, Cheri Bayuni Budjang, Senin (12/6/2023).
Kata Istri Bupati HST, H Aulia Oktafiandi itu, Pokja PKK perlu mengoptimalkan sosialisasi pola asuh, ekonomi, pendidikan dan Kesehatan. Dengan agenda Sahabat Asi.
Cheri menilai, permasalahan ekonomi bukan satu-satunya faktor meningkatnya stunting. Namun juga masalah pada mental ibu, terutama yang muda.
Karena itu, permasalahan stunting perlu dijangkau semua pihak. Terutama dari tim PKK HST hingga ke plosok desa.
“Tujuannya agar pola asuh atau permasalahan ibu dan wanita bisa diatasi dengan baik. Memaksimalkan program ibu menyusui karena banyaknya manfaat ASI untuk perkembangan tumbuh kembang bayi,” kata Cheri.
Selain itu, Cheri juga mengutarakan perlunya memaksimalkan potensi gizi kepada anak. Terutama pemanfaatan ikan haruan yang bisa memenuhi kebutuhan gizi anak, ditambahkan dengan pemenuhan gizi lainnya.
“Peningkatan pelayanan ditingkat Posyandu juga penting agar masyarakat tidak segan untuk melakukan pemeriksaan ibu dan anak di Posyandu sehingga pemeriksaan ibu dan anak bisa terus terkontrol,” tutup Cheri.
Sebelumnya, dalam agenda Rembuk Stunting itu Kepala Perwakilan (Kaper) BKKBN Kalsel, Ir. H. Ramlan, MA mengatakan di HST memang ada kenaikan kasus stunting sebesar 1,5 persen. Itu selama dua tahun berturut-turut.
Sehingga angka stunting untuk HST saat ini menjadi 31,1 persen.
“Salah satu penyebab kenaikan kasus stunting ini diakibatkan kurangnya konsumsi gizi seimbang, pola hidup yang kurang baik, kurangnya konsumsi tablet tambah darah dan beberapa faktor lain,” terang Ramlan.
Ramlan mengatakan, 70 persen penyebab stunting adalah faktor sensitif, yaitu sanitasi, air bersih dan tempat tinggal sehat.
Dia mencontohkan seperti faktor lingkungan yang kurang baik karena adanya pencemaran lingkungan. Masih adanya penggunaan jamban apung.
“Itu membuat kondisi air sungai menjadi tercemar,” terang Ramlan.
Sedangankan 30 persen lainnya, Ramlan menyebut faktor internal atau kebutuhan pangan.
“Permasalahan stunting adalah permasalahan bersama yang harus menjadi atensi bersama semua pihak, karena banyak kondisi yang menjadi perhatian, karena bukan hanya faktor kesehatan yang menjadi perhatian, namun juga faktor lingkungan,” jelas Ramlan.
Ia mengatakan, indikasi untuk anak bisa dikatakan stunting baru bisa dilihat setelah 1.000 hari kehidupan atau pada usia emas anak.
“Untuk membangun SDM yang berkualitas harus banyak atensi untuk membentuk SDM yg berkualitas,” tutup dia.
Staf Ahli Bupati di Setda HST, Dokter Kusudiarto mengapresiasi pihak yang terlibat dalam upaya menekan angka stunting yg ada di HST.
Program-program yang telah dibuat dan dilaksanakan, kata Kusudiarto harus mampu menekan angka stunting. Sebab upaya itu, atensi pemerintah pusat yg sifatnya harus disegerakan secara terarah dan terukur agar dampak ke depannya bisa di antisipasi.
“Semua elemen perlu bergerak guna mewujudkan kondisi zero stunting dengan bekerja secara cerdas dan efisien, bersinergi semua pihak agar terwujudnya komitmen bersama untuk mengatasi permasalahan,” tutup Kusudiarto.
Reporter: HN Lazuardi/rie






