terasbanua.my.id, Banjarmasin – Usai benda yang diduga alat tempur meriam diangkat dan dikaji oleh Tim Ahli Cagar Budaya Kota Banjarmasin. Ada tiga kemungkinan benda apa yang ditemukan.
Jika dari kajian sementara Tim Ahli Cagar Budaya Kota Banjarmasin menyebutkan besi bulat itu lebih mengarah pada bagian kapal dan persentasenya mencapai 50 persen.
Bedanya halnya menurut Antropologi ULM Banjarmasin, Mansyur yang menilai kemungkinan temuan itu merupakan sambungan pipa air.
“Ada kemungkinan saluran air sambungan dari program water leding Jalan Ulin namanya dulu yang sekarang Jalan Ahmad Yani,” ucap Mansyur kepada awak media.
Mansyur menjelaskan, berdasarkan sejarah di tahun 1930, di kawasan Jalan Ulin sudah dibangun sambungan water leding. Walaupun tidak besar-besaran dan diresmikan waktu itu.
Sedangkan dugaan bahwa besi tua yang tertanam di lahan Langgar Al-Hinduan itu adalah bagian kapal uap menurutnya sangat jauh.
Mengingat dok untuk kapal Belanda tidak ada di sekitar kawasan Benteng Tatas yang kini menjadi Mesjid Raya Sabilal Muhtadin dan dok itu hanya ada di wilayah Kuin dan wilayah Sungai Jingah.
“Jadi masih sumir anggapan bahwa itu bagian kapal uap,” ujarnya.
Adapun dugaan dudukan senjata meriam menurutnya lebih memungkinkan karena lokasinya yang memang berdekatan dengan Benteng Tatas.
“Jadi ada kemungkinan itu, tapi kami masih belum memastikan karena perlu dikaji lebih lanjut,” katanya.
Namun lanjutnya, jika benda itu adalah dudukan meriam pasti ada meriam. Sama halnya jika itu adalah sambungan pipa air maka ada sambungan pipa lainnya.
Maka dari itu, perlu dikaji lebih lanjut oleh pihaknya untuk memastikan temuan benda yang dianggap bersejarah tersebut.
“Jadi ada dua kemungkinan, kalau bagian kapal uap kurang memungkinkan karena yang kita tahu lokasi sungai paling besar itu ada di Kuin,” pungkasnya.
Hamdiah/ rie
Foto. Hamdiah






