terasbanua.my.id, Banjarmasin – Kabar jika sebuah meriam kuno masih terpendam di lahan Langgar Al Hinduan, ternyata benar adanya.
Untuk itu, saat ini Pemko Banjarmasin bersama pihak kontraktor akan melakukan pengangkatan terhadap meriam tersebut.
Pengangkatan benda bersejarah berupa meriam di dalam tanah berdirinya Langgar Al-Hinduan turut melibatkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin.
Hal itu diungkapkan langsung oleh Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina kepada awak media saat ditemui di Lobby Balai Kota, Kamis (17/8/2023).
“Dari informasi, posisi meriam menjorok ke jalan dan hampir setengah jalan. Kalau di tarik takutnya amblas, akanya minta bantuan PUPR. Jika terjadi bisa diatasi,” ucap Ibnu.
Kekhawatiran itu lah lanjut Ibnu, yang membuat warga setempat saat waktu melihat adanya senjata peperangan terbenam dalam tanah di lahan langgar itu enggan diangkat.
Di samping memang saat itu, hanya dilakukan renovasi biasa dari dana swadaya warga setempat saja.
“Tidak berani karena tidak alat juga,” ujar Ibnu.
Jika nantinya perkiraan benar adanya yang tertanam di sana adalah meriam, maka akan di simpan di museum.
Menurutnya, benda bersejarah itu akan jadi temuan yang ketiga. Mengingat sudah ada dua meriam yang telah ditemukan hingga saat ini.
“Tinggal satu lagi, karena bukunya Idwar Saleh itu bastion Benteng Tatas ada 4 meriam untuk pertahanan bukan serbu karena posisinya statis,” tuturnya.
Di samping itu, ia membeberkan meski bakal dijadikan cagar budaya langgar tersebut tetap difungsikan sebagai mestinya.
Namun ada beberapa sudut langgar yang bakal dijadikan semacam memorabilia atau museum untuk mengenang pengalaman sejarah yang terjadi di langgar itu.
“Seperti Muktamar NU ke 11 tahun 1936 dan melahirkan sesuatu yang sangat monumental tentang dasar negara,” jelasnya.
Menurutnya, ada alasan kenapa bangunan langgar itu harus di rehabilitasi. Mengingat hampir seluruh bangunan berbahan kayu.
“Cagar budaya itu bukan berarti meruntuhkan semua kemudian dikembalikan. Tapi ada beberapa bagian yang harus dilihat, kalau posisinya beton, batu seperti peninggalan Belanda oke bisa bertahan,” tuturnya.
Namun karena posisinya kayu, rapuh apa yang mau dipertahankan? Ya susah. Makanya terus didampingi oleh cagar budaya,” sambungnya.
Sementara itu, dalam proses rehabilitasi bangunan menara yang terdapat langgar itu sengaja disisakan yang tidak terkena dalam pembongkaran.
“Supaya paling tidak di monumen yang tidak digeser-geser dan kami minta posisinya di situ karena konon katanya di dalamnya itu ulin besar,” akhirnya.
Hamdiah/ rie
Foto. Hamdiah






