terasbanua.my.id, Barabai – Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) tak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, seperti pegunungan Meratus, namun juga jajanan khasnya.
Anda tahu? kini ada kudapan menarik di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).
Jika selama ini, HST terkenal dengan kue atau Wadai Apam. Di sisi lain ada cemilan yang juga enak disantap maupun untuk buah tangan atau oleh-oleh.

Wadai atau kue khas HST, Balikuhai./istimewa7
Wadai Balikuhai. Sering disebut waffelnya Bumi Murakata oleh kaum milineal di HST. Nyaris seperti Waffel di Eropa.
Cemilan ini bisa didapati di pasar-pasar tradisional di HST. Juga ada di Car Free Day (CFD) saban Minggu di kawasan Lapangan Dwi Warna Kota Barabai.
Kue Balikuhai berbahan utama yakni, tepung beras itu, membuat teksturnya lebih padat dan rasanya manis serta gurih.
Bahan tepung beras kemudian dicampur ke dalam adonan santan rebus dan telur bebek. Juga ditambah irisan gula merah sebagai pemanis.
Untuk memperkaya cita rasa, adonan juga ditambahkan rempah adas.
“Campuran bahan itu membuat rasa Balikuhai menjadi khas,” kata Putri Pariwisata HST, Noor Mila Amalia, kepada terasbanua.my.id, Kamis (25/5/2023).
Bahan yang sudah tercampur merata itu, kemudian dituangkan ke dalam cetakan atau wajan dengan motif kotak-kotak, persis waffel. Dimasak dengan api kecil hingga matang.
“Selama proses memasak, adonan tadi diperciki telur kocok dan mentega menggunakan kuas daun pandan,” terang Amalia.
Balikuhai yang telah matang dibungkus daun pisang untuk dijual. Biasanya harganya berkisar antara Rp5000-10.000 per bungkus.
“Cocok untuk dinikmati bersama dengan secangkir kopi maupun teh. Teksturnya lembut dan manis,” kata Amalia.
Dibalik nama Balikuhai, rupanya ada kisah unik dalam penyebutan wadai ini. Ya jajanan khas HST ini sudah ada puluhan tahun.

Putri Pariwisata HST, Amalia.
Bahkan kaum melinial pun belum banyak mengenal kue itu. Karena kue itu tergolong jadul.
Kata Amelia, nama Balikuhai bermula dari pembicaraan seorang ibu yang menyuruh anaknya untuk membalik kue agar tidak gosong.
“Dalam bahasa Banjar, ‘Balik luhai biar kada hangit’. Sejak itulah, kue ini disebut Balikuhai,” tutup Amalia.
Reporter: HN Lazuardi/ rie






