terasbanua.my.id, Banjarmasin – Alat musik biola buatan Yuli anak banua Kota Banjarmasin berhasil dilirik musisi Indonesia hingga manca negara.
Yuli mengaku awal terbesit membuat biola karena kecintaannya terhadap alat musik yang menggunakan sinar tersebut.
Terlebih, dirinya juga merupakan seorang musisi banua sekaligus pelatih biola dengan membuka kursus di samping rumahnya.
“Tiba-tiba terbesit pikiran untuk membuatnya sendiri dan kemungkinan bisa dijual,” ucap Yuli kepada terasbanua.my.id, Senin (8/7/2024).
Sementara bahan baku biola sendiri lanjutnya, ia terpaku dengan kayu kweni yang banyak tumbuh di Kalimantan terutama Kalimantan Selatan (Kalsel).
Dimana sebelumnya, kayu kweni itu tidak dilirik sama sekali hingga jika pohon mati maka dibiarkan begitu saja.
“Saya coba pakai kayu kweni yang mati untuk mengolah biola, ternyata kualitasnya tak kalah bagus dengan kayu jenis lainnya,” ujarnya.

Terkait pemasaran produknya ia tak menyangka akan laris di manca negara. Mengingat sebelumnya, dirinya tak mengetahui secara pasti mengenai prosedur ekspor.
Hingga akhirnya, dirangkul Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin untuk mengikuti pelatihan prosedur ekspor tahun 2023 lalu.
“Saya pikir awalnya harus jumlah banyak, ternyata bisa satuan dan ini membuka mata saya tentang ekspor,” katanya.
Seiring dengan itu lanjutnya, tak dipungkiri permintaan biola produksi miliknya kian meningkat. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Namun mengingat masih produksi rumahan dan hanya memiliki dua karyawan saja hingga hanya mampu memproduksi 5 unit biola dalam satu bulannya.
“Jadi harus di pesan dulu, bahkan ada yang nunggu sampai tiga bulan. Pemesanan ada dari Negara US, Italia dan banyak lagi,” imbuhnya.
Harga biola yang ia jual mulai dari Rp. 8 juta hingga Rp. 24 juta tergantung tipe, seri dan detail kerumitan desain dari biola yang di produksi.
“Harganya ini jauh lebih murah jika dibandingkan yang lain. Cuman kita memang fokus pemasaran dulu sampai produk kita dikenal banyak orang,” tuturnya.
Unit terbaru biola yang ia buat saat ini merupakan edisi Nusantara yang mana desainnya lebih mengenalkan khas budaya dari Indonesia.
“Ada edisi Nusantara seri Kalimantan dengan desain rumah adat dan alat parang tradisionalnya. Ada seri Bali juga desain alam. Edisi Nusantara ini yang ingin kita kenalkan pada dunia,” jelasnya.
Di samping itu, ia memberi tips kepada para Industri Kecil Mencegah (IKM) di Kota Seribu Sungai yang ingin produknya go internasional. Salah satu kuncinya dengan membuat sesuatu produk yang lebih unik dan tentunya dengan kualitas yang bagus.
“Jika mengedepankan keunikan dan kualitas bagus tentu akan dilirik terutama peminat dari luar negeri itu suka yang unik,” akhirnya.
Hamdiah
Foto. Hamdiah






