terasbanua.my.id, Banjarmasin – Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin melakukan langkah strategis dalam penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR).
Dalam hal itu, Pemko Banjarmasin mengandeng Indonesian Tobacco Control Research Network (ITCRN) bersama dengan Universitas Lambung Mangkurat dalam menyusun strategis tersebut.
Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengatakan dilakukannya komitmen bersama mengenai penerapan KTR itu tentunya sebagai pengingat kembali.
Mengingat saat ini, Indonesia sudah darurat terhadap penggunaan rokok sehingga perlu perhatian serius.
“Sudah seharusnya penerapan KTR tetap dilaksanakan agar kota ini jadi sehat,” ucap Ibnu usai membuka menghadiri Focus Group Discussion (FGD) di Ballroom Best Western Kindai Hotel, Rabu (12/6/2024).
Apalagi lanjut Ibnu, penerapan KTR ini sudah sesuai dengan adanya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2013 tentang Kawasan Tanpa Rokok.
Menurutnya melalui pengembangan kebijakan dan implementasi strategi pengendalian merokok itu nantinya dapat mengurangi bahkan mencegah bahayanya papar rokok terutama pada anak-anak.
Terlebih, Kota Banjarmasin mendapat predikat Kota Layak Anak. Tentu sudah seharusnya menciptakan suasana yang sehat bagi anak.
Bahkan semenjak pertama kali mendapat predikat pada tahun 2018 lalu lanjutnya, iklan rokok yang biasanya terpampang di reklame mulai dihilangkan.
“Kita rela kehilangan pendapatan sebegitu banyak demi menciptakan suasana yang sehat dan tentunya untuk menyelamatkan generasi muda ,” tuturnya.
Menurutnya, pencegahan lebih baik karena tidak seberapa jika dibandingkan pengobatan yang harus dilakukan jika sudah terpapar rokok.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin, Tabiun Huda menjelaskan berdasarkan data dari SKI 2023, kelompok perokok terbanyak (56,5%), diikuti usia 10-14 tahun (18,4%).
Dari data itu lanjut Tabiun, dapat dilihat bahwa potensi besar perokok aktif itu berasal dari anak-anak usia menjelang remaja.
“Jika di usia remaja telah menjadi perokok aktif maka peluang tetap merokok sampai lanjut usia tentu akan bertambah besar dan sulit untuk berhenti merokok,” tuturnya.
Tentunya menurutnya, kebiasaan merokok sejak dini di tengah masyarakat menjadi PR besar dalam menanggulanginya.
Namun sebagai besar perlu kesadaran dari masyarakat sendiri akan bahayanya rokok bagi pengguna bahkan berdampak pada orang sekitarnya yang terpapar.
Untuk upaya itu lanjutnya, pihaknya mencoba menjalankan gerakan Peduli Kawasan Tanpa Rokok di tiap-tiap wilayah di Kota Seribu Sungai.
“Jadi kita coba usulkan Kelurahan dan Puskesmas Sungai Bilu untuk menjadi pionir dalam gerakan itu,” akhirnya.
Hamdiah
Foto. Hamdiah






