terasbanua.my.id, Barabai – Pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi momen kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Namun, kolonialisme, NICA-Belanda dan sekutunya masih ada di Banua, Hulu Sungai Tengah (HST).
Hari ke 18 Ramadan Mei 1947 menjadi catatan Sejarah Urang Banjar, perlawanan dan upaya mempertahankan kemerdekaan yang diperjuangkan. Aksi Heroik terjadi di Kalimantan Selatan (Kalsel), yakni pertempuran “Hambawang Pulasan”.
Pertempuran itu terjadi di wilayah Kecamatan Batang Alai Utara (BAU) di Hambawang Pulasan. Monumennya sekarang ada di Desa Telang-Haur Gading.
Mengenang 76 tahun aksi heroik Hambawang Pulasan, 46 orang yang tergabung dari pegiat alam dan relawan di HST melakukan napak tilas.
Kegiatan dilakukan dengan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Birayang Surapati dan menyusuri Gua Kudahaya di Desa Cukan Lipai Kecamatan Batang Alai Selatan (BAS) HST.
Gua Kudahaya inilah yang merupakan situs sejarah dalam perjuangannya mengusir penjajah di Banua. Tempat itu markas Gerakan Pemuda Indonesia Merdeka (GERPINDOM).
“Gua Kudahaya merupakan saksi panjang sejarah perjuangan para pahlawan. Di situlah markas persembunyian GERPINDOM kemudian berakhir menjadi Pangkalan Divisi IV ALRI yang dipimpin oleh Abrani sulaiman,” kata Ketua Koordinator Napak Tilas, M Arifin, Kamis (18/5/2023).

Napak tilas, kata Arifin ditujukan mengedukasi kepada para generasi agar melek sejarah. Terutama para pejuang yang memperjuangkan Banua.
Arifin berharap, selalu ada kegiatan napak tilas seperti itu agar sejarah perjuangan pendahulu terus diingat.
“Harapannya, pemerintah juga turut memperhatikan ini, baik dari segi situs maupun kisah perjuangan pahlawan kemerdekaan di Banua,” tutup Arifin.
Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel dan juga Dosen di Prodi Sejarah FKIP ULM Banjarmasin, Mansyur menyebut Hambawang Pulasan merupakan salah satu insiden luapan kemarahan dan pelahiran rasa kebencian pada penjajah NICA, Pemerintahan Sipil Hindia Belanda.
Ya, pasca proklamasi, NICA-Belanda membonceng tentara sekutu Australia ke Kalsel kembali ingin membangun hegemoni dan kolonisasi.
Dalam Baboon Sejarah Banjar (2013), kehadiran NICA disambut dengan kebencian oleh rakyat Kalsel. Kebencian ini mengakibatkan terjadinya bentrokan di mana-mana.
“NICA ini berusaha menyusun kembali pemerintahan sipil. Tetapi, hal ini tidak dapat diterima. Orang Banua tidak ingin kembali hidup dalam bayang gelap penjajahan,” kata Mansyur yang juga Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan, Jumat (19/5/2023).
Hingga akhirnya terjadilah era revolusi fisik 1945-1949. Ungkapan perlawanan dan upaya mempertahankan kemerdekaan yang telah lama diperjuangkan.
Berangkat dari situ, embrio munculnya kelompok-kelompok pun lahir. Kelompok banyak dimotori ulama maupun rakyat biasa.
Mereka bergerilya, lari ke gunung-gunung, menyusun kekuatan dan berusaha untuk mengusir NICA.
Cerita Pertempuran Hambawang Pulasan, kata Mansyur diawali dari R. Hadikusuma, utusan dari Jawa datang membawa berita. Beberapa bulan setelah terbentuknya GERPINDOM di Birayang.
Utusan dari Jawa itu, menyebut terjadi perubahan nama TKR menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). GERPINDOM pun berganti nama menjadi TRI Pasukan MN 1001/GERPINDOM.
“Nama Pasukan MN 1001 diambil dari nama Gubernur Kalimantan Ir Pangeran Muhammad Noor,” terang Mansyur.
Pagi Maret 1947, Komandan Komando Umum GERPINDOM di Birayang, Abdurrahman Karim bersama H Aberanie Sulaiman menerima laporan lagi dari anggotanya, Ardani.
Laporan Ardani menyebut, H Damanhuri yang ditugaskan mencari senjata ke Balikpapan (Kalimantan Timur) telah kembali. Mereka bersama rombongan pasukan John Masael, bersenjata lengkap di hutan Jawa Lanting Lok Batu.
Tanpa menunda waktu, keduanya manaiki sepeda. Berangkat dari Birayang menuju Lok Batu.
“Dalam Baboon Sejarah Banjar (2013) juga dipaparkan pada sore harinya rombongan pasukan John Masael yang sedang beristirahat di hutan Jawa Lanting Lok Batu itu mendadak diserang Polisi Militer Belanda,” tambah Mansyur.
Dari segenap jurusan dengan kekuatan besar, serdadu Belanda menyerang. Walau bisa meloloskan diri, akhirnya Kampung Kumpang Maligung hancur.
Rombongan pasukan John Masael juga berhasil ditaklukkan, hingga beberapa orang tertangkap. Anggota lainnya bernama Sarigading yang menyamar ditembak mati polisi Belanda.
“Itu terjadi sewaktu dia menumpang mobil angkutan di Banua Binjai (Barabai Kota) hendak ke Banjarmasin,” kata Mansyur.
Kejadian ini tersiar hingga ke markas GERPINDOM di Gua Kudahaya, Birayang. Demi misi balas dendam, menjelang Maghrib, semua anggota yang berada di Gua Kudahaya Birayang bermaksud menyerang kantor Pemerintahan/Polisi Belanda Birayang.
Malam harinya di rumah Utuh Hingkung di Kampung Rantau Birayang, pimpinan GERPINDOM Birayang menggelar rapat. Hasilnya, mereka sepakat melakukan penghadangan terhadap setiap kendaraan yang berisi polisi atau militer Belanda yang lewat di Hambawang Pulasan.
“Selepas makan sahur, kurang lebih jam 12.00 malam diberangkatkan beberapa anggota GERPINDOM menuju Hambawang Pulasan,” kata Mansyur.
Pada pagi harinya, pasukan siap tempur dengan senjata modern. Mereka terdiri dari H Aberanie Sulaiman, Made Kawis, H Damanhuri, Jamhar, Ancau, Hamdi Idar dan Suni.
Mereka berjumlah 7 orang, sudah siap di tepi jalan raya di Hambawang Pulasan antara Ilung dengan Batu Mandi, sekarang Desa Telang-Haur Gading. Sedangkan 5 orang lainnya yang tidak bersenjata diposisikan kurang lebih 100 meter di belakang.
Hingga pada pukul 09.00 pagi hari ke-18 bulan puasa bulan Mei 1947, lewat salah satu truk yang penuh berisi militer Belanda. “Melihat musuh, pasukan berani mati ini tanpa membuang waktu lagi, berlompatan dari persembunyiannya,” tutur Mansyur.
Timah panas berhamburan. “Militer Belanda tidak menduga ada serangan mendadak, hingga semuanya tewas di tempat. Sedangkan, truk militer itu terjungkir ke samping jalan,” cerita Mansyur.
Sebelum para pejuang berhasil merampas senjata, ternyata satu truk berisi penuh militer Belanda datang lagi. Terjadi lagi pertempuran sengit.
Jarak tembak hanya sekira satu meter. Namun tanpa diduga, rupanya terdapat tambahan pasukan Belanda yang datang, pertempuran ini bergejolak dari segala penjuru.
“Adu peluru panas pun menyeruak di lokasi itu. Bau asap dari kedua pihak berhadapan ini justru membakar semangat para pejuang Banua, walau hanya berkuatan tujuh personel. Sedangkan, lima pejuang lainnya terpaksa menghindar, karena tak memegang pistol atau senjata laras panjang,” kata Mansyur.

Gabungan pegiat alam dan relawan di HST melakukan napak tilas ke Gua Kudahaya mengenang pejuang kemerdekaan di Banua, Kamis (18/5/2023).
Dalam suasana pertempuran sengit melawan penjajah itu, Made Kawis menderita luka parah ditembus peluru musuh. Ia banyak mengeluarkan darah, sehingga para pejuang terpaksa mengundurkan diri.
Sementara di pihak pasukan Belanda diperkirakan banyak korban, baik yang meninggal maupun yang menderita luka berat atau ringan.
“Hal menguntungkan dari peristiwa ini, adalah merosotnya jiwa militer Belanda akibat disergap di tengah hutan.Sebaliknya bagi para pejuang dan rakyat berakibat bangkit dan tergugahnya jiwa dan semangat perlawanan,” terang Mansyur.
Besok harinya, semua anggota pasukan sudah berada kembali di Markas GERPINDOM Birayang di Gua Kudahaya, terkecuali Made Kawis dan Utuh Kandangan tertangkap dan tertembak oleh militer Belanda di Kias Tapuh Birayang.
“Made Kawis gugur sebagai kesuma bangsa. Sementara, Utuh Kandangan tidak cedera sedikit pun bahkan pulang dengan selamat ke Gua Kudahaya, markas GERPINDOM,” tutup Mansyur.
Reporter: HN Lazuardi







