terasbanua.my.id, Jakarta – TurunTangan kembali menggelar program Polittalks dengan mengangkat tema ‘Reformasi & Kebebasan Berkespresi: Sebuah Janji yang Toxic’, yang berlokasi di Walking Drum Patiunus, Jakarta Selatan, Senin (29/5/2023) malam tadi.
Polittalks kali ini digelar dengan tiga narasumber yang sangat kompeten di bidangnya, dan dipandu oleh moderator dari Pemuda Harsa, Mohammad Abror.
Sebelum memulai sesi diskusi, Program Officer TurunTangan, Bagas Putra menjelaskan bahwa Polittalks menjadi rumah bagi anak-anak muda untuk membuka percakapan politik.
“Kami di TurunTangan ingin membuka ruang diskusi secara khusus di bidang politik. Dan saya harap ruang percakapan publik ini tetap berlanjut supaya menjadi sarana diskusi yang lebih baik,” ujar Bagas di lokasi kegiatan.
Sementara itu, narasumber pertama yang merupakan Pendiri Lokataru dan Aktivis HAM, Haris Azhar menjelaskan bahwa reformasi beserta produk-produknya tidak serta merta menghasilkan sesuatu yang potensial.
Haris meyakini, reformasi telah sukses dijalankan. Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya nyawa yang berjatuhan. Menurutnya, mereka adalah orang-orang yang dikorbankan untuk berubahnya sebuah sistem.
“Di era saat ini saya belum menemukan getaran hati yang seperti itu. Bukan tentang harus menjadi seperti itu, tapi yang saya maksud adalah jiwanya yang harus dimiliki oleh orang-orang muda sekarang,” ucap Haris.
Haris mengingatkan kepada anak muda, jangan terlalu fokus mengejar jabatan dan pangkat. Sebaiknya, mereka harus belajar menyelam dan bekerja, agar dapat memiliki daya tahan yang bagus.
Berbicara tentang reformasi, narasumber kedua yang merupakan Wakil Ketua Bidang Analisis dan Pergerakan BEM KM UGM 2022, Aditya Halimawan menceritakan bahwa hingga saat ini dirinya pernah mendapatkan ancaman.
Ancaman yang dimaksud Adit adalah dalam bentuk akun Instagram yang dihacked, bahkan tak jarang juga berupa ancaman-ancaman fisik dari aparat tertentu.
Kemudian, narasumber terakhir yang merupakan Wakil Koordinator Bidang Advokasi KontraS, Tioria Pretty membenarkan apa yang dikatakan Adit, bahwa masih ada ancaman-ancaman yang diterima oleh orang muda saat berpendapat.
“Dan bagi saya, ancaman ini sangat berpengaruh pada mental anak-anak muda. Kemudian menurut saya, celotehan misalnya hati-hati di depan ada tukang bakso itu adalah contoh bahwa pemerintah berhasil membangun ketakutan pada diri masyarakat untuk menyampaikan kritik,” pungkas Pretty.
Sebagai informasi, sekitar 50 audiens datang untuk meramaikan Polittaks kali ini. Mereka pun tampak antusias untuk berdiskusi dengan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada ketiga narasumber.
Program Polittalks sendiri direncanakan berlangsung setiap satu bulan sekali dengan tema atau topik dan narasumber yang berbeda tiap episodenya.
Rilis/ham






