terasbanua.my.id, Banjarmasin – Popok dan pembalut adalah jenis sampah yang mengalami kenaikan setiap tahunnya di Kota Banjarmasin.
Kepala Bidang (Kabid) Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin, Marzuki mengungkapkan kenaikan jumlah sampah jenis itu tak lain karena banyak penggunaannya.
Contohnya seperti popok yang sekarang ini tidak hanya digunakan bayi atau balita saja, tapi para lanjut usia (lansia) juga.
“Hal itu yang menyebabkan sampah terutama popok jumlahnya naik. Belum lagi sampah pembalut,” ucap Jack sapaan akrabnya, Kamis (2/3/2023).
Diakui Jack, sampah jenis tersebut mengalami peningkatan cukup signifikan dari data terakhir sejak tahun 2016.
“Untuk persisnya saya lupa. Tapi datanya ada semua jenis sampah. Saya lihat sampah kain perca naik dan ternyata sumbernya dari popok bayi dan lansia serta pembalut,” jelasnya.
Menurut Jack sampah kain perca merupakan jenis sampah yang tidak bisa didaur ulang kembali karena belum ada teknologi untuk memproses itu.
Padahal lanjutnya, idealnya semua jenis sampah tidak hanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) saja.
“Sebenarnya kain perca yang lain di pusat daur ulang skala rumah tangga itu bisa kami ulah keset. Tapi yang itu (popok dan pembalut) tidak bisa didaur ulang,” katanya.
Kendati demikian, pihaknya berusaha mencari solusinya agar kedua jenis sampah itu memungkinkan untuk didaur ulang.
Pasalnya, di daerah Jawa sudah ada cara menanggani sampah tersebut dengan mengolahnya jadi pupuk cair hingga media tanaman.
“Tapi disini sampah seperti itu dianggap sangat kotor dan tidak semua mau bekerja mendaur ulang sampah jenis itu,” katanya.
Selain itu, pemanfaatan sampahnya juga yang nilainya kurang ekonomis. Sehingga tak heran, daur ulang jenis ini tidak terlalu menarik para pekerja.
“Makanya pengelolaan sampah popok dan pembalut masuk, masih sulit dilakukan,” tukasnya.
Di samping itu, pihaknya terus berusaha mensosialisasikan kepada masyarakat agar bisa memilah sampahnya sebelum dibuang.
Hamdiah
Foto. Hamdiah






