terasbanua.my.id, Banjarmasin – Serius dalam menyikapi penutupan TPA Basirih, Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin pun melakukan langkah-langkah konkrit.
Bukan tanpa alasan, karena imbas penutupan itu tumpukan sampah di TPS yang ada di Kota Banjarmasin kian menggunung dan cukup menganggu.
Serius untuk menangani itu, Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin langsung mengelar Rapat Koordinasi (Rakor) bersama pemangku kebijakan lainnya, Rabu (6/2/2025) malam.
Dalam rapat ini, berbagai upaya dan langkah konkret dibahas sebagai solusi penanggulangan sampah di Kota Seribu Sungai. Baik jangka pendek maupun panjang.
Terlebih, saat ini Kota Banjarmasin sudah Tanggap Darurat Sampah seiring penutupan TPA Basirih oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) sebagai sanksi administrasi karena dianggap telah mencemari lingkungan.
Sementara pembuangan sampah dialihkan TPA Banjarbakula. Namun terbatas karena hanya bisa menampung 18 persen yang mana sampah yang dihasilkan Kota Banjarmasin hampir 600 hingga 650 ton per harinya.
“Makanya salah satu usulannya tadi melakukan pemilahan sampah dari sumbernya. Artinya kesadaran masyarakat itu sendiri. Apalagi kondisi saat ini,” ucap Ibnu.
Selain itu, Ibnu juga berencana akan berkoordinasi dengan Gubernur Kalsel, Muhidin mengenai jam operasional ke TPA Banjarbakula. Apakah memungkinkan untuk bisa dilakukan penyesuaian agar pengiriman angkutan volume sampah dari Banjarmasin itu bisa dilakukan setelah jam 4 sore hingga 10 malam.
“Mengingat keterbatasan armada kita dalam mengirim volume sampah ke TPA regional itu,” kata Ibnu.
Tentunya, pihaknya juga berusaha berkoordinasi lagi KLH untuk meminta keringatan untuk bisa membuang sampah di TPA Basirih untuk sementara.
“Meski peluangnya kecil tapi akan terus dicoba karena saat kondisi sampah kita di TPS sangat sakit,” akhirnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin, Alive Yoesfah Love menuturkan dalam upaya penanganan sampah saat ini pihaknya mengusahakan pengurangan sampah di tingkat kelurahan.
“Rencana ada 69 titik pemilahan dan pengurangan sampah. Semoga kelurahan bisa mau menjalankan upaya ini agar sampah yang dibawa sekitar 20 persen. Tinggal residu saja lagi,” tutur Alive.
Dari tingkat kelurahan itu lanjutnya, masing-masing kelurahan bisa menyediakan lahan kosong untuk pemilahan sampah itu dan dibantu petugas kebersihan pihaknya.
Adapun dalam upaya ini, pihaknya sudah menyiapkan anggaran penanggulangan sampah melalu Belanja Tak Terduga (BTT).
“Dan 6 bulan selanjutnya dianggaran kelurahan langsung untuk menjalankan ini,” ujarnya.
Menurutnya jika pemilihan sampah di tingkat kelurahan berhasil. Maka presentase sampah berkurang bisa sampai 80 persen dari volume sampah yang dihasilkan setiap harinya mencapai 600 ton itu.
“Memang produksi sampah terbanyak dari rumah tangga jadi kalau berhasil dilakukan tentu terlihat hasil pengurangan sampah,” tuturnya.
Belum termasuk pengurangan sampah yang bisa dilakukan langsung oleh pihak restoran maupun cafe hingga hotel di Kota Banjarmasin.
“Kemudian pasar terkelola sendiri dan mereka siap melakukan untuk pemilahan dan pengolahannya di masing-masing yang sisa-sisa makanan termasuk mereka yang berkecimpung di sampah-sampah organik,” katanya.
Ia optimis dari upaya berbagai upaya kongrit ini, penanggulangan sampah di Kota Banjarmasin bisa teratasi dengan baik.
Hamdiah
Foto. Hamdiah






