terasbanua.my.id, Banjarmasin – Pergelaran pasar ramadan di Siring Menara Pandang, nampaknya sangat disambut antusias warga Kota Banjarmasin pada hari pertamanya, Kamis (23/3/2023).
Pasalnya, momentum pasar ramadan memang sangat ditunggu-tunggu warga Kota Banjarmasin.
Apalagi dua tahun lalu saat pandemi Covid-19, Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin terpaksa tidak menggelar pasar ramadan. Demi menghindari kerumunan yang bisa memicu penyebaran virus Covid-19.
Seperti yang diungkapkan Syahrida asal warga Kampung Gadang yang mengaku kehadiran pasar ramadan kembali dapat mengobati rasa rindu setelah dua tahun tidak dilaksanakan.
“Alhamdulillah bahagia rasanya dilaksanakan lagi karena ramadan tanpa pasar ramadan terasa sepi karena nuansanya di situ,” ucap Syahrida kepada terasbanua.my.id.
Tentunya wadai khas banjar jadi menu takjil yang paling ia buru di pasar ramadan karena memang wadai khas banjar seperti wadai lapis india dan jenis lainnya banyak dijual dan mudah dicari di pasar ramadan.
Belum lagi, minuman segar-segar yang cocok menemani takjil manis saat berbuka untuk menghilangkan dahaga selama menjalankan puasa seharian penuh.
“Makanya senang sekali ke pasar ramadan apalagi dekat dari rumah. Mau apa saja Alhamdulillah ada di sini,” tuturnya.
Selain itu, lokasi pasar ramadan yang berada di objek wisata ikonik Kota Banjarmasin itu juga menambah kesan nyaman untuk ngabuburit.
“Pas lah di sini. Mudah-mudahan bisa terus dilaksanakan karena ramadan tanpa pasar ramadan terasa kurang dan terpenting harga takjil jangan mahal-mahal,” akhirnya.
Nampaknya, kegembiraan terhadap digelarnya pasar ramadan juga disampaikan Masrihana salah satu pedagang yang menempati stand.
Mengingat selama ini, dirinya merupakan pedagang musiman yang hanya berjualan wadai khas banjar untuk berbuka puasa biasanya hanya selama ramadan saja.
“Alhamdulillah bisa berjualan lagi di pasar ramadan,” ungkapnya.
Berbagai jenis wadai khas banjar ia dijual, mulai wadai bingka, wadai lapis dan wadai ceper biasanya yang dijual per potong.
“Kita jual dari harga Rp. 20 ribu sampai Rp. 40 ribu,” ujarnya.
Meski hanya perdagangan selama ramadan saja, tapi usahanya itu sudah berlangsung puluhan tahun dan dilakukan turun menurun sejak orang tuanya.
“Sudah lama sekali setiap tahunnya. Makanya saat pandemi Covid-19 tidak ada pasar ramadan terpaksa jualan di pinggir jalan tak jauh dari rumah,” tuturnya.
Tentunya warga dari Kampung Melayu itu berharap pergelaran pasar ramadan di Kota Banjarmasin terus bisa dilaksanakan.
Hamdiah
Foto. Hamdiah






