terasbanua.my.id, Banjarmasin – Pembuatan film Jendela Seribu Sungai adaptasi dari novel karangan anak banua yakni Miranda saat ini jadi pembicaraan hangat.
Menanggapi persoalan itu, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengatakan wacana pembuatan film ini sudah ada sejak lama dari tahun 2018 lalu. Sehingga menurutnya tidak seharusnya saat penggarapan film ini timbul kontrovesial.
“Ya harusnya sudah tahu dengan adanya wacana novel itu akan di angkat ke layar lebar,” ucap Ibnu melalui video singkat di laman media sosial instagramnya, Kamis (17/11/2022).
Ibnu menuturkan dengan anggaran 6 miliyar yang digunakan dalam penggarapan film itu tidak terlalu besar dan kalah jauh dengan anggaran untuk pembangunan infrastruktur yang ada di Kota Banjarmasin.
Di samping itu, menurut Ibnu anggaran 6 miliyar terbilang kecil untuk pembuatan sebuah film yang berkualitas. Apalagi hingga di tingkat nasional.
“Saat ini banyak daerah lain juga membuat film. Ya bisa di tanding berapa anggarannya,” ujarnya.
Sebagai pemimpin daerah, mendukung pembuatan film dari karya dari anak banua, para budayawan, para pelaku ekonomi kreatif dan lainnya adalah hal wajar untuk didukung penuh.
Selain itu, menurut orang nomor satu di Kota Banjarmasin itu menuturkan bahwa tidak salahnya mengangkat keindahan kota yang memiliki julukan Seribu Sungai dalam sebuah layar lebar.
Di sisi lain, ia menyebutkan tidak masalah jika scene yang ada dirinya sebagai cameo dihapus dalam penggarapan film itu.
“Ya tidak masalah karena kemunculan saya hanya 15-30 detik sebagai cameo karena memang di dalam bukunya ada,” terangnya.
Pengambilan setting film ini sendiri hampir sama dengan film Laskar Pelangi yang mana harapannya keindahan Kota Banjarmasin bisa terangkat dan dikenal banyak orang.
“Gimana dulu Bangka Belitung itu dari tidak terkenal hingga terkenal sekali sekarang sebagai negeri Laskar Pelangi kan itu dari film. Walaupun kita tidak bisa menjamin juga akan sukses tapi kita upayakan lewat situ ya tidak ada salahnya,” paparnya.
Di samping itu, menurutnya jika film jendela Seribu Sungai ini dipermasalahkan seharusnya film yang pernah di buat Kalimantan Selatan (Kalsel) sebelumnya juga harus dikritisi. Mengingat penggarapannya juga menggunakan APBD.
“Dulu kan ada film Pangeran Antasari yang telah menghabiskan anggaran 3 miliyar. Namun memang film itu tidak di komersil kan. Kemudian saat ini juga sedang digarap film Syeh Arsyad Al-Banjari, kenapa sepi-sepi saja tidak ada yang protes sedangkan film Jendela Seribu Sungai malah diprotes,” tandasnya.
Di sisi lain, dirinya tidak keberatan DPRD Kota Banjarmasin mempermasalahkan anggaran pembuatan film dan bisa disampaikan langsung kepada Dinas Kebudayaan, Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin untuk mendapat penjelasan.
Namun yang jelas lanjutnya, anggaran sudah diketuk palu. Sehingga tidak bisa di stop begitu saja saat penggarapan film tengah berlangsung.
“Jangan-jangan seperti Dermaga Apung lagi. Jangan sampai nanti fungsi dewan itu malah tidak mendukung program Pemko. Silahkan laksanakan tugas fungsi pengawasan tetapi kegiatan proyek harus tetap jalan,” pungkasnya.
Hamdiah
Foto. Hamdiah






