terasbanua.my.id, Banjarmasin – Pembuatan film dari adaptasi novel garapan Miranda dengan judul Jendela Seribu Sungai sudah mulai digarap.
Saat ini Tim Produksi dan Kreatif Film Jendela Seribu Sungai sudah mengambil lokasi shooting di beberapa tempat di Kota Banjarmasin.
Salah satunya, di SDN Pengambangan 6 Banjarmasin yang berada di Jalan Keramat Raya, Kelurahan Sungai Bilu, Kecamatan Banjarmasin Tengah.
Dimana lokasi ini menjadi pengambilan scene Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina yang ikut terlibat menjadi salah satu pemain cameo dalam pembuatan film.
Kepada media, Ibnu Sina mengaku antusias ikut adil dalam pembuatan film Jendela Seribu Sungai yang mana novelnya cukup best seller beberapa tahun silam dan tentunya menjadi film pertama yang nanti menjadi kebanggaan warga Kota Banjarmasin.
“Ini ada scene film si tokoh Arian yang bertemu dengan Wali Kota Banjarmasin karena tidak ada figur lain jadi pakai Wali Kota Banjarmasin asli yang memerankan ini,” ucap Ibnu usai pengambilan scene di SDN Pengambangan 6 Banjarmasin, Minggu (13/11/2022).
Di samping itu, menurut Ibnu banyak hal yang mau diangkat dalam film ini. Namun lebih memfokuskan bagaimana generasi penerus kita untuk menunjukkan bakat dan mengasah kemampuan mereka terutama pada aspek budaya yang disampaikan dalam film ini.
“Karena dalam cerita ini ada anak seniman yang menggapai cita-citanya serta kekayaan Seribu Sungainya kita angkat,” katanya.
Ibnu berharap melalui film ini nantinya bisa mengangkat potensi wisata dan lainnya yang ada di yang memiliki julukan Kota Seribu Sungai.
Selain itu, ia juga berharap film ini bisa menjadi pemantik untuk film-film berkualitas selanjutnya. Jika ada pembuatan film yang mengangkat kebudayaan Kota Banjarmasin lagi.
“Tentu ini pemantik bahwa Kota Banjarmasin hadir untuk pembuatan film ini. Semoga film ini bisa selesai sesuai target karena memang tahun ini harus selesai,” tutupnya.
Sementara itu, Produser Film Jendela Seribu Sungai, Aris Muda mengatakan perlu waktu empat tahun untuk melakukan riset terlebih dahulu sebelum bisa dilakukan proses shooting film.
“Idenya berawal dari Novel yang terbit pada 2018 tahun lalu baru kita pikirkan untuk membuat film setelah melakukan riset,” ungkap Aris.
Aris menjelaskan sama halnya dalam cerita di novel. Di film ini mengangkat kisah perjalanan hidup dari tiga tokoh anak yang memiliki cita-cita besar untuk dikejar yang memiliki hambatan masing-masing.
Dimana cerita yang diangkat dalam film ini mengambil suasana tahun 2005, 2016 dan akhir cerita di tahun 2026.
“Tokoh pertama itu, Arian yang ingin menjadi seniman Kuriding namun ditentang ayahnya yang merupakan seorang seniman Kuriding . Sama halnya dengan Kejora yang ingin menjadi dokter,” terangnya.
“Sedangkan tokoh Bunga tak bisa mengembangkan bakat tarinya dihadapan orang tuannya karena kondisinya sebagai Down Syndrome. Sebaliknya orang tua mematikan cita-cita Bunga sebagai seorang penari,” sambungnya.
Di sisi lain, pembuatan film ini melibatkan banyak artis tanah air Indonesia yang mana kebanyakan artis kelahiran di Kalimantan Selatan (Kalsel). Selain itu, pemain lokal juga turut dilibatkan.
“Sekitar 30-40 pemain itu sebagian besar warga Kota Banjarmasin,” ujarnya.
Adapun untuk lokasi shooting pengambilan scene berada di tiga tempat yang ada di Kalsel yakni Loksado, Kandangan dan tentunya pengambilan scene terbanyak di Kota Banjarmasin.
Hamdiah
Foto. Hamdiah






