terasbanua.my.id, Banjarmasin – Penyegelan yang dilakukan Kementrian Lingkungan Hidup Kehutanan (KLHK) RI berimbas pada mata pencarian pengepul maupun pemulung di kawasan TPA Basirih.
Terlebih, ada ratusan pemulung yang mengadu nasib di TPA Basirih dengan mengais-ngais sampah yang bisa dijual.
Seperti salah seorang pemulung, Nurul Masitah yang mengaku sudah 20 tahun mencari nafkah di TPA Basirih dan selama ini sudah dapat menghidupi 3 anaknya.
“Lumayan sehari ini minimal Rp.100 ribu, tapi banyak juga yang diongkosi,” Nurul Masitah saat berbincang-bincang dengan terasbanua.my.id, Selasa (4/2/2025).
Kabar penutupan TPA Basirih ini sendiri menurutnya, bagaikan disambar petir di siang bolong karena terasa mendadak.
Penutupan TPA Basirih akan menyulitkannya mencari rejeki untuk menyambung hidup bersama keluarganya. Apalagi jika sampai ditutup permanen.
Terlebih, dirinya kebingungan mencari pekerjaan lain. Sementara kembali menjadi petani pun sulit karena lahan pertanian di sekitaran sini sudah tercemar.
“Bagaimana kami melanjutkan hidup dan bagaimana anak-anak kami sekolah,” ujarnya.
Senada juga diungkapkan Ketua Pengepul TPA Basirih, Firmansyah yang mengaku kepusingan semenjak ditutup. Mengingat tidak ada lagi aktivitas pengepul ataupun pemulung yang boleh dilakukan disana.
Saat ini, mereka hanya diberi waktu untuk membereskan pekerja tersisa sebelum ditutupnya TPA Basirih.
“Sabtu kemarin disegel dan kami diberi waktu 1×24 jam untuk membereskan. Namun kami meminta kelonggaran dan berkonsultasi dengan kementrian hingga diberi waktu 7 hari untuk membereskan,” ucap Firmansyah.
Terhitung sejak Sabtu kemarin, waktu tersisa tinggal 3 hari lagi dimana Jumat (7/2) mendatang sudah tidak diperbolehkan ada aktivitas apapun di TPA Basirih.
Penutupan ini sendiri lanjutnya, sangat berdampak kepada para pengepul terutama ratusan pemulung yang bergantung hidup di TPA Basirih.
“Bayangkan ketika 1 pemulung itu menghidupi tiga orang. Artinya ada ribuan yang bergantung di TPA Basirih,” ujarnya.
Maka dari itu, besar harapannya pihak KLHK bisa bijak dan mempertimbangkan keputusannya lagi untuk penutupan TPA Basirih.
“Mempertimbangkan asas kemanusiaan yang bergantung hidup di sini,” akhirnya.
Hamdiah
Foto. Hamdiah






