terasbanua.my.id, Banjarmasin – Meski menyarankan proses belajar mengajar di lapangan dengan menggunakan tenda. Namun tak dipungkiri, belajar di ruang terbuka menurut pandangan orangtua murid membuat siswa tak fokus.
Salah seorang tua siswa SDN Mawar 7 Banjarmasin, Berry Hendrianor menilai proses belajar mengajar di lapangan kurang efektif meski tak ada pilihan lain.
“Kalau di dalam ruangan kita takut ambruk, di lapangan siswa tidak fokus,” ungkap Berry kepada terasbanua.my.id saat berbincang-bincang.
Belum lagi lanjutnya, jika alam tak mendukung. Misalnya hujan turun tentunya akan mengganggu aktivitas siswa belajar.
Selain itu, menurutnya belajar mengajar di lapangan cukup merepotkan dimana siswa harus membawa meja sendiri untuk belajar.
Ia berharap pihak sekolah bisa segeranya memperbaiki agar para siswa bisa belajar kembali normal seperti biasanya.
“Ya harapannya bisa segeranya,” katanya.
Senada juga disampaikan, Natania salah seorang siswa yang mengaku perbedaan cukup signifikan saat pembelajaran di lapangan dengan ruang kelas sudah ia rasakan sejak pertama kali dilaksanakan.
“Di luar ini panas, belum lagi berisik. Jadi kurang fokus,” katanya.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Kesiswaan SDN Mawar 7 Banjarmasin, Aprial Al Kautsar menjelaskan belajar mengajar di lapangan murni dari usulan para orang tua yang memang khawatir dengan kondisi bangunan sekolah saat ini.
“Kami menghargai keluhan para orang tua jadi kami setujui dengan tenda dan berlakukan shift,” katanya.
Dimana lanjutnya, sewa tenda ditanggung para orang tua siswa yang mana sewanya Rp. 75 ribu per hari.
Menurutnya inisiatif orang tua tak ada salahnya. Namun tak dipungkirinya memang belajar mengajar di lapangan kurang efektif untuk para siswa.
Adapun penggunaan ruang kelas lanjutnya, untuk lantai satu sebagian sudah bisa digunakan. Namun untuk bisa menyakinkan kekhawatiran orang tua, pihaknya masih menunggu hasil review PUPR Kota Banjarmasin.
“Ini terus kami koordinasikan,” akhirnya.
Hamdiah
Foto. Hamdiah






